Basajan..
Semalam pertemuan pertama dengan fasilitator yang baru, setelah sekitar 3 pekan lebih vacum karena sang fasilitator harus berganti.. Membaca tulisan Eceu yang berjudul "Pertemuan Kecil" membuatku tergelitik menceritakan hal yang serupa, tentu saja dalam konteks yang berbeda.
Di dalam lingkaran itu aku menemukan kembali kesederhanaan, benda cantik yang selalu indah dipandang dalam segala cakupannya, mulai dari kesederhanaan fisik/material, kesederhanaan bertutur, sampai kesederhanaan dalam pengolahan fakta-fakta semesta sehingga tidak perlu menyimpulkan sebuah ketaatan terlalu lama.
Dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana justru malah membuat akal ini bergerak dengan cara yang sangat ruwet. Penuh gugatan terhadap realitas yang dihadapi, dan tak jarang pertanyaan-pertanyaan njlimet pun terlontar dari jutaan neuron di dalam otak. Kebiasaan yang sejak lama ada, karena dahulu hanya itu yang bisa dilakukan disaat anak-anak lain seusiaku asyik dengan mainan-mainan mahalnya. Ya! menggugat realitas, kulakukan dalam diam dan dalam kesendirian. Hingga saat ini, cara yang kompleks dalam berfikir ini masih sering menjadi kebiasaan. Caraku bertutur.. seringkali penuh dengan beragam pendekatan. pokoknya tidak sederhana.
Hijrahnya diri ini ke Surabaya telah menambah kompleksitas itu, dari keruwetan menuju ke keruwetan berikutnya.. walaupun disini saya belajar untuk lebih banyak menjadi lugas, dan lebih konkrit, lalu meninggalkan sedikit keruwetan melankolistik. Tetapi tetap sulit dihilangkan.. karena aktivitas fisik justru ternyata cukup merangsang akal ini untuk kembali meracau..
Aku hanya diingatkan kepada sekelompok manusia sederhana yang gigih mendatangiku 6 tahun lalu dengan cara sederhana. Kala itu aku tidak terlalu mengamini argumentasi manusia-manusia itu, karena kesederhanaan mereka dalam bertutur --bahkan kadang-kadang dalam berfikir--, tidak cukup mampu untuk menjawab kompleksitas pertanyaan yang kumiliki saat itu. Terkadang jawaban yang terdengar serasa menggelikan karena kurang intelek serta jauh dari analisis yang utuh, bahkan seringkali mereka tidak terlalu faham dengan fakta-fakta yang mereka kemukakan ketika mereka menyampaikan ajakan demi ajakannya kepadaku (dugaan ku mereka masih pada fase pembelajaran imitatif, seperti yang umumnya dialami oleh semua manusia). Pada intinya argumentasi mereka sangat tidak compatible dengan kerangka berfikirku saat itu..
Maha Suci Allah yang telah menurunkan hidayah-Nya kepada sahabat Rukhanah hanya dengan sebuah pertandingan gulat. Alih-alih kompleksitas, justru kesederhanaanlah yang telah menghantarkan sebuah pencerahan besar.. karena selama ini jalan yang kutempuh --walaupun bagian dari skenarioNya-- masih belum cukup efisien untuk mencitra sebuah bentuk kebenaran secara utuh. Terlebih ketika aku menyadari bahwa manusia-manusia sederhana itu lah yang berada di balik sebuah pekerjaan-pekerjaan besar, dirasakan manfaat dan barokahnya.. oleh sebanyak-banyaknya manusia, karena barokah adalah anugerah yang terindah, dimana sang kebaikan terus berkembang, berbiji, berbuah, dan terus menerus berketurunan.
Hari ini aku hidup masih di tengah-tengah kompleksitas. bahkan dalam kadar yang lebih kental daripada apa yang kutemui di Bandung, Terkadang jengah juga menghadapinya, apalagi jika ditemui setiap hari, membuat diri ini cepat bosan dalam berjuang.. karena setiap kompleksitas harus ku temukan pola-nya dan mengurai benang kusutnya lalu membuatnya kembali tegak dan berpola. butuh ketelatenan.. butuh kesederhanaan, dan butuh do'a dari manusia-manusia sederhana.. Jalmi anu Basajan ceuk urang sunda mah.
~iugee~
"Kanggo Jalmi Anu Basajan, Nu Beunghar, Nu Kakayaanna Ngalangkungan Dunia Jeung Sa Eusina"