.:: K o n t e m p l a t ::.
Saturday, July 31, 2004
  Basajan..

Semalam pertemuan pertama dengan fasilitator yang baru, setelah sekitar 3 pekan lebih vacum karena sang fasilitator harus berganti.. Membaca tulisan Eceu yang berjudul "Pertemuan Kecil" membuatku tergelitik menceritakan hal yang serupa, tentu saja dalam konteks yang berbeda.
Di dalam lingkaran itu aku menemukan kembali kesederhanaan, benda cantik yang selalu indah dipandang dalam segala cakupannya, mulai dari kesederhanaan fisik/material, kesederhanaan bertutur, sampai kesederhanaan dalam pengolahan fakta-fakta semesta sehingga tidak perlu menyimpulkan sebuah ketaatan terlalu lama.
Dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana justru malah membuat akal ini bergerak dengan cara yang sangat ruwet. Penuh gugatan terhadap realitas yang dihadapi, dan tak jarang pertanyaan-pertanyaan njlimet pun terlontar dari jutaan neuron di dalam otak. Kebiasaan yang sejak lama ada, karena dahulu hanya itu yang bisa dilakukan disaat anak-anak lain seusiaku asyik dengan mainan-mainan mahalnya. Ya! menggugat realitas, kulakukan dalam diam dan dalam kesendirian. Hingga saat ini, cara yang kompleks dalam berfikir ini masih sering menjadi kebiasaan. Caraku bertutur.. seringkali penuh dengan beragam pendekatan. pokoknya tidak sederhana.
Hijrahnya diri ini ke Surabaya telah menambah kompleksitas itu, dari keruwetan menuju ke keruwetan berikutnya.. walaupun disini saya belajar untuk lebih banyak menjadi lugas, dan lebih konkrit, lalu meninggalkan sedikit keruwetan melankolistik. Tetapi tetap sulit dihilangkan.. karena aktivitas fisik justru ternyata cukup merangsang akal ini untuk kembali meracau..
Aku hanya diingatkan kepada sekelompok manusia sederhana yang gigih mendatangiku 6 tahun lalu dengan cara sederhana. Kala itu aku tidak terlalu mengamini argumentasi manusia-manusia itu, karena kesederhanaan mereka dalam bertutur --bahkan kadang-kadang dalam berfikir--, tidak cukup mampu untuk menjawab kompleksitas pertanyaan yang kumiliki saat itu. Terkadang jawaban yang terdengar serasa menggelikan karena kurang intelek serta jauh dari analisis yang utuh, bahkan seringkali mereka tidak terlalu faham dengan fakta-fakta yang mereka kemukakan ketika mereka menyampaikan ajakan demi ajakannya kepadaku (dugaan ku mereka masih pada fase pembelajaran imitatif, seperti yang umumnya dialami oleh semua manusia). Pada intinya argumentasi mereka sangat tidak compatible dengan kerangka berfikirku saat itu..
Maha Suci Allah yang telah menurunkan hidayah-Nya kepada sahabat Rukhanah hanya dengan sebuah pertandingan gulat. Alih-alih kompleksitas, justru kesederhanaanlah yang telah menghantarkan sebuah pencerahan besar.. karena selama ini jalan yang kutempuh --walaupun bagian dari skenarioNya-- masih belum cukup efisien untuk mencitra sebuah bentuk kebenaran secara utuh. Terlebih ketika aku menyadari bahwa manusia-manusia sederhana itu lah yang berada di balik sebuah pekerjaan-pekerjaan besar, dirasakan manfaat dan barokahnya.. oleh sebanyak-banyaknya manusia, karena barokah adalah anugerah yang terindah, dimana sang kebaikan terus berkembang, berbiji, berbuah, dan terus menerus berketurunan.
Hari ini aku hidup masih di tengah-tengah kompleksitas. bahkan dalam kadar yang lebih kental daripada apa yang kutemui di Bandung, Terkadang jengah juga menghadapinya, apalagi jika ditemui setiap hari, membuat diri ini cepat bosan dalam berjuang.. karena setiap kompleksitas harus ku temukan pola-nya dan mengurai benang kusutnya lalu membuatnya kembali tegak dan berpola. butuh ketelatenan.. butuh kesederhanaan, dan butuh do'a dari manusia-manusia sederhana.. Jalmi anu Basajan ceuk urang sunda mah.
~iugee~
"Kanggo Jalmi Anu Basajan, Nu Beunghar, Nu Kakayaanna Ngalangkungan Dunia Jeung Sa Eusina"
 
Friday, July 30, 2004
  Tentang Lupa..!!
Telah terjadi sebuah percakapan, sekitar satu pekan yang lalu, dengan seorang kakak yang biasa saya panggil Mbak. Pembicaraan berlangsung jarak jauh, Bandung-Surabaya, sehingga dunia maya lah yang menjadi mediator percakapan ini..

Pemicunya sederhana, si Mbak mengkritisi sebuah tulisan yang pernah saya posting dalam sebuah mailing list yang kebetulan kami berdua adalah 'salah dua' anggotanya :).
Kurang lebih, beginilah percakapan itu bermula (dengan beberapa pengeditan)...
(Status Y! Messenger iugee saat itu adalah "Makan Pecel")
Mbak : :)
Mbak : lagi makan pecel yaa...uenak e rek...hmm..hmm..
Mbak : lhaa..lagi makan beneran tho ?
Mbak : kok dicuekin :(
Mbak : iugee...halooo ?
iugee : iyaa
Mbak : enak pecelnya ? :)
iugee : opoo-o?
iugee : mari tuku iki lho
iugee : durung dimangan
Mbak : yo wis, di pangan dhisik...mengko keselek lho..:D
Setelah itu si Mbak mulai mengajukan pertanyaannya..
Mbak : gee,tentang tulisan yugi
Mbak : kenapa yugi berpendapat spt itu ?
iugee : which one ?
Mbak : ttg "saya memang sedang menangkap sebuah fenomena yang saya temui dari beberapa aktivis dakwah, yang dia hidup dalam disiplin tarbiyah, akan tetapi sikap-sikap dan keputusan hidupnya hanya menunjukan pembelaan terhadap kepentingan pribadi yang berbau duniawi.. walaupun dia membahasakan dalam bahasa perjuangan"
iugee : i just say what i feel
Mbak : dengan fakta gee ?
iugee : yups
iugee : of course you not as a model :)
Mbak : ndak, bukan gitu..how you can be so sure about that ?
iugee : hehe
iugee : you knaw what?
iugee : itu bisa dilihat dari keputusan2 hidup seseorang
iugee : dari apa yang menjadi pertimbangannya
iugee : dan seberapa jauh dia bisa mempertanggungjawabkan pilihan2 hidupnya itu
iugee : and you can see
iugee : which one the honest
iugee : and which the liar
iugee : hehe
iugee : mungkin saya ngelantur
iugee : i just have a strong feeling
iugee : so i didn't mention even a name
Mbak : ndak, saya juga gak butuh nama kok..cuma..
iugee : and that (to be liar) can be happened to me too
iugee : so i have to be carefull
Mbak : naa...itu lho yang saya maksud juga...
Mbak : bisa jadi ketika kita menangkap sebuah informasi dari dirinya, maka bisa jadi itu juga terjadi pada kita, dan org tsb pun sdg mengalami fase yang sama juga ..jadi maksud saya, bisa jadi kita terjebak dalam prasangka kita ttg org lain gee..maaf yaa..
iugee : hemm
iugee : may be i should include me in that sentence
Mbak : hhmm ?
Mbak : maksudnya ?
iugee : i should make a proper sentece
iugee : dengan bahasa yang lebih melibatkan dan mengkhawatirkan diri sendiri kali ya
Mbak : mungkin yang yugi rasakan sama seperti yang saya rasakan juga,sampe2 saya malah khawatir sama diri saya gee..
Mbak : bener gak sih diri ini tertarbiyah..
Mbak : tapi, sampai saat ini yang jadi tameng adalah perasaan khawatir itu memang gee..jadi saya berharap, rasa khawatir itu tetap ada dalam diri saya, karena kalo itu hilang, nggak tau deh, kayak apa jadinya..
Mbak : kalo perasaan aman yang dipupuk, itu justru bisa menipu..
Mbak : halo ?? jangan2 makan pecel lagi :(
iugee : heheh
iugee : nggak
iugee : lagi ditongkrongin client
iugee : betul
iugee : setuju
iugee : keseimbangan antara khawatir dan harap
iugee : khouf dan raja
Mbak : tapi memang kita kadang2 suka sering merasa aman ya dengan posisi sekarang.:(
iugee : jangan
iugee : jangaaaaan sampeeee
iugee : teruslah bercita2 untuk syahid!!!
Mbak : iya sih...
iugee : :)
Mbak : mudah2an nyadar setiap saat..
Mbak : :)
Mbak : trus kira2 kalo ama penampakan fenomena itu benar, gimana dong ?
iugee : gimana apanya mbak?
iugee : lho emang bener kan
iugee : terkadang salah satu cara untuk menjaga dirikita dari ketergelinciran adalah
iugee : dengan memvonis (dalam hati) "salah" terhadap setiap orang yang melakukan kesalahan didepan kita
Mbak : iya, tapi penyebabnya apa sih gee ?
iugee : ya banyak atuh
iugee : bisa jadi dia pada awalnya melakukan kompromi2 dengan kebutuhan hidup
iugee : pada awalnya emang gitu
iugee : dan itu sangat diperbolehkan
iugee : kalo seorang da'i nggak bisa survive buat dirinya sendiri gimana dia bisa berdakwah?
iugee : nah, tapi justifikasi tersebut sering keterusan.
iugee : sehingga dia lupa berjuang
iugee : lupa berkorban
iugee : lupa berjihad
iugee : lupa bahwa dia akan mati
iugee : dan lupa bahwa kematiannya harus dilalui dalam kemuliaan
iugee : lupa.. lupaa... dan lupaaa....
Hiks...
Entah apa yang menjadikan kakak-ku yang satu ini mendadak kritis..
Menanyakan pertanyaan-pertanyaan fundamental kepadaku dengan bertubi-tubi..
dan jawaban demi jawabanku terasa membebani, semakin menyesakkan dada..
dada ku sendiri
Allahumma ammitha 'alaa syahaadati fii sabilika..
~iugee~
Surabaya
 
bisnis terbesar manusia di muka bumi ini adalah pencarian kebenaran, karena disanalah kebahagiaan bersemayam, manusia menempuhnya dengan berbagai macam cara.. dari mulai cara yang natural, sampai cara anarkis. saya hanya ingin memulainya dengan kontemplasi.. seperti cara cerdasnya Ibrahim.. semoga bisa melalui penyadaran dan berakhir pada kepasrahan. di blog ini, ku biarkan kontemplat ini melintas...

My Photo
Name:
Location: Bandung, Jawa Barat, Indonesia

I try to think deeeply. that's it!!

Pencarian Produk Halal
www.HalalGuide.info