Telah terjadi sebuah percakapan, sekitar satu pekan yang lalu, dengan seorang kakak yang biasa saya panggil Mbak. Pembicaraan berlangsung jarak jauh, Bandung-Surabaya, sehingga dunia maya lah yang menjadi mediator percakapan ini..
Pemicunya sederhana, si Mbak mengkritisi sebuah tulisan yang pernah saya posting dalam sebuah mailing list yang kebetulan kami berdua adalah 'salah dua' anggotanya :).
Kurang lebih, beginilah percakapan itu bermula (dengan beberapa pengeditan)...
(Status Y! Messenger iugee saat itu adalah "Makan Pecel")
Mbak : :)
Mbak : lagi makan pecel yaa...uenak e rek...hmm..hmm..
Mbak : lhaa..lagi makan beneran tho ?
Mbak : kok dicuekin :(
Mbak : iugee...halooo ?
iugee : iyaa
Mbak : enak pecelnya ? :)
iugee : opoo-o?
iugee : mari tuku iki lho
iugee : durung dimangan
Mbak : yo wis, di pangan dhisik...mengko keselek lho..:D
Setelah itu si Mbak mulai mengajukan pertanyaannya..
Mbak : gee,tentang tulisan yugi
Mbak : kenapa yugi berpendapat spt itu ?
iugee : which one ?
Mbak : ttg "saya memang sedang menangkap sebuah fenomena yang saya temui dari beberapa aktivis dakwah, yang dia hidup dalam disiplin tarbiyah, akan tetapi sikap-sikap dan keputusan hidupnya hanya menunjukan pembelaan terhadap kepentingan pribadi yang berbau duniawi.. walaupun dia membahasakan dalam bahasa perjuangan"
iugee : i just say what i feel
Mbak : dengan fakta gee ?
iugee : yups
iugee : of course you not as a model :)
Mbak : ndak, bukan gitu..how you can be so sure about that ?
iugee : hehe
iugee : you knaw what?
iugee : itu bisa dilihat dari keputusan2 hidup seseorang
iugee : dari apa yang menjadi pertimbangannya
iugee : dan seberapa jauh dia bisa mempertanggungjawabkan pilihan2 hidupnya itu
iugee : and you can see
iugee : which one the honest
iugee : and which the liar
iugee : hehe
iugee : mungkin saya ngelantur
iugee : i just have a strong feeling
iugee : so i didn't mention even a name
Mbak : ndak, saya juga gak butuh nama kok..cuma..
iugee : and that (to be liar) can be happened to me too
iugee : so i have to be carefull
Mbak : naa...itu lho yang saya maksud juga...
Mbak : bisa jadi ketika kita menangkap sebuah informasi dari dirinya, maka bisa jadi itu juga terjadi pada kita, dan org tsb pun sdg mengalami fase yang sama juga ..jadi maksud saya, bisa jadi kita terjebak dalam prasangka kita ttg org lain gee..maaf yaa..
iugee : hemm
iugee : may be i should include me in that sentence
Mbak : hhmm ?
Mbak : maksudnya ?
iugee : i should make a proper sentece
iugee : dengan bahasa yang lebih melibatkan dan mengkhawatirkan diri sendiri kali ya
Mbak : mungkin yang yugi rasakan sama seperti yang saya rasakan juga,sampe2 saya malah khawatir sama diri saya gee..
Mbak : bener gak sih diri ini tertarbiyah..
Mbak : tapi, sampai saat ini yang jadi tameng adalah perasaan khawatir itu memang gee..jadi saya berharap, rasa khawatir itu tetap ada dalam diri saya, karena kalo itu hilang, nggak tau deh, kayak apa jadinya..
Mbak : kalo perasaan aman yang dipupuk, itu justru bisa menipu..
Mbak : halo ?? jangan2 makan pecel lagi :(
iugee : heheh
iugee : nggak
iugee : lagi ditongkrongin client
iugee : betul
iugee : setuju
iugee : keseimbangan antara khawatir dan harap
iugee : khouf dan raja
Mbak : tapi memang kita kadang2 suka sering merasa aman ya dengan posisi sekarang.:(
iugee : jangan
iugee : jangaaaaan sampeeee
iugee : teruslah bercita2 untuk syahid!!!
Mbak : iya sih...
iugee : :)
Mbak : mudah2an nyadar setiap saat..
Mbak : :)
Mbak : trus kira2 kalo ama penampakan fenomena itu benar, gimana dong ?
iugee : gimana apanya mbak?
iugee : lho emang bener kan
iugee : terkadang salah satu cara untuk menjaga dirikita dari ketergelinciran adalah
iugee : dengan memvonis (dalam hati) "salah" terhadap setiap orang yang melakukan kesalahan didepan kita
Mbak : iya, tapi penyebabnya apa sih gee ?
iugee : ya banyak atuh
iugee : bisa jadi dia pada awalnya melakukan kompromi2 dengan kebutuhan hidup
iugee : pada awalnya emang gitu
iugee : dan itu sangat diperbolehkan
iugee : kalo seorang da'i nggak bisa survive buat dirinya sendiri gimana dia bisa berdakwah?
iugee : nah, tapi justifikasi tersebut sering keterusan.
iugee : sehingga dia lupa berjuang
iugee : lupa berkorban
iugee : lupa berjihad
iugee : lupa bahwa dia akan mati
iugee : dan lupa bahwa kematiannya harus dilalui dalam kemuliaan
iugee : lupa.. lupaa... dan lupaaa....
Hiks...
Entah apa yang menjadikan kakak-ku yang satu ini mendadak kritis..
Menanyakan pertanyaan-pertanyaan fundamental kepadaku dengan bertubi-tubi..
dan jawaban demi jawabanku terasa membebani, semakin menyesakkan dada..
dada ku sendiri
Allahumma ammitha 'alaa syahaadati fii sabilika..
~iugee~
Surabaya